Sandy Ibrahim Aziz, Sang Penjaga Tokat Estafet Bagi Generasi Baru Satria Muda

Sandy Ibrahim Aziz, Sang Penjaga Tokat Estafet Bagi Generasi Baru Satria Muda

Dibuat oleh Admin . Pada 31 July 2026 - 16:40

BANDUNG - SATRIAMUDA.ID, ada jargon yang amat nyaring dalam menggambarkan sebuah era. Begini bunyinya, semua orang ada masanya dan semua masa ada orangnya. Kalimat penuh makna namun sepertinya belum terlalu berfungsi bagi seorang Sandy Ibrahim Aziz di Satria Muda. Karena nyatanya walau era Satria Muda sudah berganti namun nama Sandy Ibrahim masih terus menghiasi skuad tim yang sudah mengoleksi 12 gelar juara ini. 

Karir seorang Sandy Ibrahim Aziz bersama SM sendiri dimulai ketika dirinya beranjak SMA. Kala itu Sandy sudah berkenalan dengan bola basket sejak tahun 2008 dan GOR CTRA Arena yang menjadi tempat dimana dia ditempa dengan amat keras. 

“Jadi awalnya waktu SMP itu saya berlatih di GOR Tri Lomba Juang Bandung terus karena banyak teman-teman saya yang juga latihan di Ctra akhirnya saya juga pindah kesana dan ikut klub Ctra Arena Basketball School atau CABS. Disana saya dilatih sama pelatih legendaris kota Bandung namanya pak Sri Gianto dan ditangan beliau lah pertama kali saya dibentuk dengan pola latihan keras, tegas dan super displin,” katanya. 

“Terus maju ke tahun 2010 waktu itu saya ikut pertandingan eksebisi yang diadain sama NBL sebagai bentuk promosi acara mereka waktu itu nah abis tanding itu saya disamperin sama sosok legendaris lainnya Coach Fictor Roring. Ya intinya beliau menawarkan untuk bergabung bersama SM sebagai pemain binaan. Jujur waktu itu saya ga terlalu pikir panjang sih karena ya siapa juga bisa menolak tawaran tim sebesar SM dan jadilah saya bergabung bersama SM hingga saat ini,” lanjutnya. 

Sandy sendiri tentu sadar bahwa tantangan berat selanjutnya sudah menunggu apalagi kalau bukan memperjuangan satu tempat untuk masuk sebagai skuad utama Satria Muda. Karena seperti yang kita tahu SM adalah gudangnya pemain bertalenta, siapa yang masuk kesana tentu sudah harus siap baik fisik maupun mental. 

“Jujur saya merasa sedikit beruntung masuk SM saat para pemain hebat seperti Faisal, Amin Prihantono, Wellyanson Situmorang hingga Rony Gunawan masih ada. Mereka semua mengajarkan saya bagaimana untuk selalu menjadi pribadi yang kompetitif baik di latihan maupun di pertandingan. Serta meyakini satu kalimat yang masih saya amini hingga kini yaitu, jangan mikir apa yang klub bisa kasih buat kita tapi apa yang bisa kita berikan untuk klub,” jelas peraih medali perunggu cabor 3x3 pada Sea Games 2019 ini. 

Tak terasa perjalanan Sandy dan Satria Muda akhirnya langgeng hingga saat ini. Selain itu tiga gelar juara di kasta tertinggi bola basket Indonesia juga berhasil dia persembahkan untuk SM. Sebuah proses panjang yang tentu saja diwarnai dengan peluh keringat dan ribuan kesabaran. 

Masuk sebagai remaja yang punya mimpi besar dalam basket kini berkembang hingga menjadi orang terakhir yang tersisa dari skuad SM kala meraih gelar back to back tahun 2021-2022. 

“Ya mungkin saya masih ada di SM hingga saat ini karena rezeki saya masih disini. Saya juga merasa sangat terhormat ya karena hingga sekarang masih dipercaya untuk berdedikasi buat tim ini. Sebuah perjuangan yang tidak mudah tapi saya tahu bahwa setiap jengkal saya disini pasti akan menjadi sesuatu yang bisa saya ceritakan suatu saat nanti,” jelas pemain yang berposisi sebagai shooting guard ini. 

Ditanya soal apakah dirinya siap untuk mengenggam tongkat estafet dalam mendidik para generasi muda Satria Muda saat ini untuk memahami kultur juara mereka, Sandy menjawab tentu siap. Karena menurutnya setiap individu yang sudah memilih SM sebagai jalan hidup mereka harus mengerti bahwa iklim persaingan disini intensitasnya sangat tinggi. 

“Yang pasti saya selalu ingetin buat generasi yang sekarang disini bahwa kerja keras dan displin dalam setiap latihan adalah kuncinya. Dan juga saya kasih mereka bahwa SM itu tabu sama kekalahan karena dari dulu jiwanya SM itu adalah selalu ingin menang apapun kondisinya. Karena itu yang nantinya akan melahirkan mental juara dalam diri kami sebagai pemain SM. Yang terakhir ya jangan manja-manja kalo di basket haha,” tutupnya. (FR)